Sang Penyelamat Ceriyati

Kamis, 21-06-2007 13:58:04 oleh: Stevan Ramadhan
Kanal: Peristiwa

Ceriyati Dapin, 34, wanita pembantu rumah tangga yang lari dari lantai 15 sebuah apartemen di Kuala Lumpur , terli­hat terharu. Di hadapannya lelaki tegar terlihat berbinar. Ke­duanya lalu berpelukan. “Bang, saya mengucapkan terima kasih kepada Abang karena telah menolong saya,” kata Ceriyati dengan muka ceria tapi air matanya mengalir di pipi. Ia amat terharu. Kalaulah bukan karena lelaki itu, entah apa yang akan menimpa dirinya.

Siapa dia?

Dia adalah K. Balasupramaniam, Direktur Pelatihan MVFRA ( Malay­sian Volunteer Fire & Rescue Associate JSP Volunteer Firefighter Association Kuala Lumpur . Dialah sang penyelamat. Ketika itu, 16 Juni lalu, Ceriyati nekat turun lewat jendela dari lantai 15 sebuah apartemen di Kuala Lumpur . Ia turun dengan tali yang terbuat dari kain yang disambung-sambung. Ceriyati tak tahan empat bulan tak digaji dan selama itu pula ia disiksa. Begitu Ceriyati melihat sosok Balasupramaniam, ia langsung menghambur. Ia peluk erat lelaki yang pernah menolong korban tsunami di Aceh 2004 lalu itu.

Padahal dari awal sudah diskenariokan, pertemuan antara sang penyelamat dengan Ceriyati akan berlangsung di hadapan Wakil Dubes RI AM Fachir karena keduanya sudah saling ingin bertemu dan bersapa setelah drama penyelamatan yang membuat dunia heboh. “Kamu kelihatan ceria dan nama kamu juga Ceriyati makanya saya memberikan bunga,” kata Balasupramaniam, setelah berpelukan dengan Ceriyati. Drama haru itu berlangsung di KBRI Kuala Lumpur , Rabu malam. Wakil Dubes RI AM Fachir sebenarnya sedang dalam lift untuk menyaksikan pertemuan tersebut, tapi Ceriyati dan Balasu­pramaniam, langsung berpelukan dan memberikan bunga.

 

“Terima kasih Bang, saya sudah Abang tolong,” katanya lagi seper­ti disiarkan Antara.

“Bukan saya yang menolong kamu tapi Tuhan yang membuat kamu tetap hidup. Saya senang kamu bisa lebih baik sekarang dan saya selalu berdoa agar kamu mendapatkan keadilan,” katanya. Kepada wartawan dan beberapa stasiun TV Jakarta serta para pejabat dan staf KBRI, Balasupramaniam menceritakan, ketika sedang latihan di dekat apartemen Tamarind, ia mendapatkan pang­gilan untuk membantu orang yang akan bunuh diri.

“Jadi semula saya berpikir akan ada orang yang bunuh diri tapi mengapa menggunakan tali dari potongan-potongan kain, pakaian dan selimut yang diikat sampai panjang,” katanya.

“Ketika saya sudah dekat dengan muka dia dan melihat langsung mukanya merah-merah seperti habis dipukuli barulah saya sadar bahwa orang ini bukan akan bunuh diri tapi untuk melarikan diri maka saya langsung menyelamatkannya,” kata Balasupramaniam.

K Balasupramaniam pernah juga punya pengalaman dalam membantu masyarakat Aceh ketika dihantam gempa bumi dan badai tsunami. Wakil Dubes RI AM Fachir mengatakan, atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada K Balasupramaniam. Pertemuan tersebut sangat mengharukan terutama bagi Ceriyati yang baru pertama kali bertemu dengan sang penyelamat. K Balasu­pramaniam mengatakan ingin pula bertemu suami Ceriyati dan anak-anaknya setelah mendengar akan datang ke Kuala Lumpur . Sementara itu, Tan Ming Wai, seorang jurnalis di Harian Utusan Melayu Kuala Lumpur kemarin, menulis, betapa Ceriyati tidak menyangka, jika nasib buruk pembantu rumah tangga (PRT) yang sering ia baca dan lihat di televisi, justru menimpa dirinya.

Menurutnya, kini dia sendiri terlibat dalam kasus kekerasan terhadap PRT itu. Ketika memanjat pintu di lantai 15 itu, dia hanya memikirkan mau melarikan diri walaupun hanya bergantung atau berpaut pada ikatan kain-kain.

“Saya memang tak tahan lagi siksaan itu, bukan saja dia (majikan) cekik dan tumbuk mata saya sehingga lebam malah gaji bulanan RM500 pun tidak pernah dibayar sejak mula kerja Februari lalu,” katanya seperti ditulis Utusan. Ia akan didera majikan, sering karena persoalan sepele, misalnya lupa mematikan lampu, atau majikan menemukan sehelai rambut di lantai.

“Kadang-kadang kalau saya melakukan kesalahan kecil, majikan beri hukuman melarang saya makan nasi sehingga lima hari, “ kata dia.

“Bayangkan saya hanya diberi makan nasi sekali sehari, tidur dari pukul 2 pagi dan bangun 5.30 pagi,” katanya lagi. Selain itu, ia juga harus menyusun rapi semua dokumen yang dibawa majikannya pulang dari kantor.

Ceriyati berasal dari Kecematan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah itu sudah menikah dengan seorang petani berusia 37 tahun dan mempunyai seorang anak lelaki dan perempuan, masing-masing berusia tujuh dan 15 tahun. Sementara itu, Ketua Polis Daerah Sentul, Asisten Komisioner K. Kumaran mengisahkan istri majikan berusia Ivone Siew,35, yang dipercayai menyiksa Ceriyati sudah ditahan pihak berwajib.

Sumber: Singgalang 21 Juni 2007

 

 

BACK TO : HOMEPAGE

Copyright © MVFRA. All Rights Reserved.
Questions or comments?
Send email to
mvfra_anita@hotmail.com