Ceriyati Dapin, 34, wanita pembantu rumah tangga yang lari dari lantai 15
sebuah apartemen di Kuala Lumpur , terlihat terharu. Di hadapannya lelaki
tegar terlihat berbinar. Keduanya lalu berpelukan. “Bang, saya mengucapkan
terima kasih kepada Abang karena telah menolong saya,” kata Ceriyati dengan muka
ceria tapi air matanya mengalir di pipi. Ia amat terharu. Kalaulah bukan karena
lelaki itu, entah apa yang akan menimpa dirinya.
Siapa dia?
Dia adalah K. Balasupramaniam, Direktur Pelatihan MVFRA ( Malaysian
Volunteer Fire & Rescue Associate JSP Volunteer Firefighter Association
Kuala Lumpur . Dialah sang penyelamat. Ketika itu, 16 Juni lalu, Ceriyati nekat
turun lewat jendela dari lantai 15 sebuah apartemen di Kuala Lumpur . Ia turun
dengan tali yang terbuat dari kain yang disambung-sambung. Ceriyati tak tahan
empat bulan tak digaji dan selama itu pula ia disiksa. Begitu Ceriyati melihat
sosok Balasupramaniam, ia langsung menghambur. Ia peluk erat lelaki yang pernah
menolong korban tsunami di Aceh 2004 lalu itu.
Padahal dari awal sudah diskenariokan, pertemuan antara sang penyelamat
dengan Ceriyati akan berlangsung di hadapan Wakil Dubes RI AM Fachir karena
keduanya sudah saling ingin bertemu dan bersapa setelah drama penyelamatan yang
membuat dunia heboh. “Kamu kelihatan ceria dan nama kamu juga Ceriyati makanya
saya memberikan bunga,” kata Balasupramaniam, setelah berpelukan dengan
Ceriyati. Drama haru itu berlangsung di KBRI Kuala Lumpur , Rabu malam. Wakil
Dubes RI AM Fachir sebenarnya sedang dalam lift untuk menyaksikan pertemuan
tersebut, tapi Ceriyati dan Balasupramaniam, langsung berpelukan dan
memberikan bunga.
“Terima kasih Bang, saya sudah Abang tolong,” katanya lagi seperti
disiarkan Antara.
“Bukan saya yang menolong kamu tapi Tuhan yang membuat kamu tetap hidup. Saya
senang kamu bisa lebih baik sekarang dan saya selalu berdoa agar kamu
mendapatkan keadilan,” katanya. Kepada wartawan dan beberapa stasiun TV Jakarta
serta para pejabat dan staf KBRI, Balasupramaniam menceritakan, ketika sedang
latihan di dekat apartemen Tamarind, ia mendapatkan panggilan untuk
membantu orang yang akan bunuh diri.
“Jadi semula saya berpikir akan ada orang yang bunuh diri tapi mengapa
menggunakan tali dari potongan-potongan kain, pakaian dan selimut yang diikat
sampai panjang,” katanya.
“Ketika saya sudah dekat dengan muka dia dan melihat langsung mukanya
merah-merah seperti habis dipukuli barulah saya sadar bahwa orang ini bukan akan
bunuh diri tapi untuk melarikan diri maka saya langsung menyelamatkannya,” kata
Balasupramaniam.
K Balasupramaniam pernah juga punya pengalaman dalam membantu masyarakat Aceh
ketika dihantam gempa bumi dan badai tsunami. Wakil Dubes RI AM Fachir
mengatakan, atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada K Balasupramaniam. Pertemuan tersebut sangat
mengharukan terutama bagi Ceriyati yang baru pertama kali bertemu dengan sang
penyelamat. K Balasupramaniam mengatakan ingin pula bertemu suami Ceriyati
dan anak-anaknya setelah mendengar akan datang ke Kuala Lumpur . Sementara itu,
Tan Ming Wai, seorang jurnalis di Harian Utusan Melayu Kuala Lumpur kemarin,
menulis, betapa Ceriyati tidak menyangka, jika nasib buruk pembantu rumah tangga
(PRT) yang sering ia baca dan lihat di televisi, justru menimpa dirinya.
Menurutnya, kini dia sendiri terlibat dalam kasus kekerasan terhadap PRT itu.
Ketika memanjat pintu di lantai 15 itu, dia hanya memikirkan mau melarikan diri
walaupun hanya bergantung atau berpaut pada ikatan kain-kain.
“Saya memang tak tahan lagi siksaan itu, bukan saja dia (majikan) cekik dan
tumbuk mata saya sehingga lebam malah gaji bulanan RM500 pun tidak pernah
dibayar sejak mula kerja Februari lalu,” katanya seperti ditulis Utusan. Ia akan
didera majikan, sering karena persoalan sepele, misalnya lupa mematikan lampu,
atau majikan menemukan sehelai rambut di lantai.
“Kadang-kadang kalau saya melakukan kesalahan kecil, majikan beri hukuman
melarang saya makan nasi sehingga lima hari, “ kata dia.
“Bayangkan saya hanya diberi makan nasi sekali sehari, tidur dari pukul 2
pagi dan bangun 5.30 pagi,” katanya lagi. Selain itu, ia juga harus menyusun
rapi semua dokumen yang dibawa majikannya pulang dari kantor.
Ceriyati berasal dari Kecematan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah itu
sudah menikah dengan seorang petani berusia 37 tahun dan mempunyai seorang anak
lelaki dan perempuan, masing-masing berusia tujuh dan 15 tahun. Sementara itu,
Ketua Polis Daerah Sentul, Asisten Komisioner K. Kumaran mengisahkan istri
majikan berusia Ivone Siew,35, yang dipercayai menyiksa Ceriyati sudah ditahan
pihak berwajib.
Sumber: Singgalang 21 Juni 2007